Sabun Cuci Batik "Langis"

Senin Wage, 30 Desember 2019 08:47 WIB ∼ 99 Komentar (0)

Foto Berita

Selama ini minyak bekas menggoreng atau minyak jelantah lebih banyak digunakan untuk membuat bio diesel. Harga jual yang dibandrol pengepul pada kisaran Rp 2.000 hingga Rp 3.000 per liter.
     
"Sehingga  relatif tidak ada nilai tambah apapun. Padahal di bank sampah yang saya kelola yakni Berdikari Sejahtera  di Perumahan Graha  Banguntapan setiap bulan terkumpul 30 liter hingga 50 liter," kata Yomi Windriasni saat membuat sabun cuci berbahan jelantah di workshop kampung KB Mertosanan Kulon, Desa Potorono, Kecamatan Banguntapan Bantul, Kamis (26/12/2019) sore.

Dari sanalah kemudian pada April, Yomi mulai meramu minyak jelantah dengan takaran tertentu untuk bisa diolah menjadi sabun sehingga nilai ekonomisnya naik. Sabun tersebut diberi brand 'Langis' yang dalam bahasa Jawa artinya membersihkan.

"Kalau untuk proses pengolahan jelantah di semua bank sampah hampir sama. Saya hanya bermain di variasi soda api, dan optimalisasi proses. Kami jamin produk ini aman," jelasnya.

Proses pembuatan untuk minyak jelantah dinetralkan dengan direndam arang 24 jam dan disaring. Kemudian minyak tadi dituang dalam baskom atau wadah dan dicampur soda api. Takaranya untuk setiap 450 ml jelantah, soda apinya 200 ml. Aduk sampai merata hingga kental dan bisa ditambah parfum sesuai selera. Campuran itu harus  langsung dicetak karena jika lama dibiarkan akan membeku.
    
Untuk 1 liter minyak jelantah bisa menjadi 14 sabun batang dengan berat 20 gram. Untuk menjadi sabun padat, cairan tadi dibiarkan dalam suhu ruangan selama 3 hari.
   
Setelah 3 hari sabun sudah jadi dan siap digunakan. Sabun yang baik,lanjut Yomi warnanya putih,bersih dan padat. Sebaliknya sabun jelek ketika dipegang lembek,kotor dan warnanya kekuningan.
   
"Kunci sabun bagus atau tidak pada proses awal pembuatan. Untuk warna putih sabun itu proses alamiah,jadi tidak menggunakan pewarna apapun," ungkap perempuan 39 tahun yang memulai usaha sejak April tersebut.
     
Sabun tersebut selain aman digunakan dan lembut ditangan,juga ramah lingkungan. Sabun juga mampu menghilangkan noda seperti  darah,noda makanan,noda tanah dan lainya. Harga jual sabun ini Rp 15.000 tiap batang.
   
Sementara untuk yang sabun cair dijual Rp 25.000 untuk takaran botol 250 ml. Untuk setiap bulan Yomi mampu menjual 150 batang hingga 300 batang. Untuk sabun cair 30 botol dan mayoritas pemasaran secara online.

"Sabun ini lembut dan aman bagi kain,termasuk batik sehingga warnanya tidak memudar,"kata Yomi.
    
Camat Banguntapan Drs Fauzan Mua'rifin menyambut baik dan mengapresiasi terhadap olahan minyak tersebut. Sebab selain mengurangi limbah,produknya aman dan memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.

"Dalam memproduksi sabun Yomi tidak sendiri namun juga dibantu tetangga sekitar dengan tetap hasil akhir kualitasnya di cek oleh Yomi. Ke depan saya akan meminta teman dan kolega saya untuk bisa mengumpulkan jelantah dan akan saya berikan ke sini," ungkapnya.(yve)

 

Sumber : https://koranbernas.id/berita/detail/ibu-ini-ubah-minyak-jelantah-jadi-sabun



Komentar (0)

Nama harus di isi.
Format E-mail tidak tepat.
Pesan harus diisi, minimal 10 karakter, maksimal 1000 karakter.

Puskesmas Banguntapan I

Puskesmas Banguntapan I

Ngipik, Baturetno, Banguntapan, Bantul
(0274) 383104

Puskesmas Banguntapan II

Puskesmas Banguntapan II

Krobokan, Tamanan, Banguntapan, Bantul
(0274) 7466879

Puskesmas Banguntapan III

Puskesmas Banguntapan III

Karangsari, Tegaltandan, Banguntapan, Bantul
(0274) 4544667

Komando Rayon Militer Banguntapan

Koramil / Komando Rayon Militer Banguntapan

Ngipik, Baturetno, Banguntapan, Bantul

Kepolisian Sektor Banguntapan

Polsek / Kepolisian Sektor Banguntapan

Jl. Wonosari, Banguntapan, Bantul
(0274) 414132

Kantor Urusan Agama Banguntapan

KUA / Kantor Urusan Agama Banguntapan

Karangturi, Baturetno, Banguntapan, Bantul
(0274) 384019